Home / Fiqh /

Syarat Sah Shalat

 

Syarat sah shalat adalah perkara-perkara yang menjadikan shalat seseorang sah dengannya selama orang tersebut masih mampu melakukannya.

Berikut adalah penjelasan syarat-syarat sah shalat yang tidak akan sah shalat tanpanya :

1. Masuknya waktu

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الصَلاَةَ كَانَتْ عَلىَ المُؤمِنِينَ كِتَابًا مَوقُوتًا

Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’ ayat 103).

Tidak sah shalat seseorang kecuali dengan masuknya waktu shalat sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Nabi ﷺ dalam sunnahnya.

2. Menutup aurat

Allah Ta’ala berfirman,

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُم عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.” (QS. Al-A’raf ayat 31)

Dan Nabi ﷺ bersabda,

لا يقبل الله صلاة حائضٍ إلا بخِمارٍ

Allah tidak menerima shalatnya seorang wanita (yang telah) haid kecuali dengan mengenakan jilbab.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Menutup aurat dalam shalat tidaklah berkait dengan masalah pandangan. Karena seorang muslim wajib menutup auratnya dalam shalat walaupun ia dalam keadaan menyendiri.

3. Menjauhi najis

Orang yang akan melaksanakan shalat disyaratkan bersih dari najis pada dirinya, pakaiannya dan tempat shalatnya.

Najis adalah materi tertentu yang bisa menghalangi sahnya shalat seseorang jika dia ada pada badan, pakaian atau tempat shalatnya seperti bangkai, darah, air kencing dan kotoran manusia.

Nabi ﷺ menyuruh seorang wanita untuk mencuci kainnya yang terkena darah haid dan dia bisa shalat dengan kain tersebut setelah mencucinya[1]. Beliau juga menyuruh untuk menggesekkan dua sandal di tanah jika terdapat najis padanya dan kemudian shalat dengan sandal tersebut[2]. Dan beliau pernah memerintahkan menuangkan air untuk membersihkan tempat di masjid yang terkena najis air kencing seorang Arab badui.[3]

Orang yang melihat najis pada pakaiannya setelah shalat selesai dan dia tidak tahu kapan najis itu ada, maka shalatnya sah.

Demikian pula jika dia mengetahui adanya najis tersebut sebelum shalat, akan tetapi dia lupa membersihkannya hingga shalatnya selesai, maka shalatnya sah menurut pendapat yang kuat.

Jika dia mengetahui adanya najis itu dalam shalatnya, maka di wajib mengeluarnya atau membersihkannya jika hal itu memungkinkan dilakukan dalam shalat tanpa banyak membuat gerakan, seperti seperti melepaskan sandal atau kopiahnya dan yang semacamnya tanpa harus banyak bergerak.

Jika tidak memungkinkan membersihkannya dalam shalat, maka shalatnya batal. Dia harus keluar dari shalatnya untuk membersihkannya dan memulai shalat kembali dari awal.

4. Menghadap Kiblat

Kiblat seorang muslim dalam shalatnya adalah Ka’bah di kota Makkah.

Tidak sah shalat seseorang tanpa menghadap kiblat, karena Allah memerintahkan hal tersebut dalam firmanNya,

وَحَيْثُ مَا كُنتُم فَوَلُّوا وُجُوهَكُم شَطْرَهُ

Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah wajahmu kepadanya (al-Masjid al-Haram).” (QS. Al-Baqarah ayat 144).

Orang yang berada dekat dengan Ka’bah, dia wajib shalat menghadap langsung ke Ka’bah. Tidak boleh dia berpaling darinya ke arah lainnya.

Orang yang berada dekat Ka’bah namun terhalang oleh sesuatu sehingga tidak bisa melihatnya, maka dia harus berusaha untuk mengharap tepat ke arah Ka’bah sekemampuannya.

Dan orang yang berada jauh dari Ka’bah, di arah manapun di penjuru bumi ini, maka dia menghadap ke arah yang berada padanya Ka’bah tersebut. Tidak masalah jika agak serong sedikit ke kanan atau ke kiri karena jarak yang jauh.

Nabi ﷺ bersabda,

مَا بينَ المَشرقِ والمَغربِ قِبلةٌ

Apa yang ada diantara timur dan barat adalah kiblat.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dishahihkan Al-Albani).[4]

Orang yang tidak mampu menghadap ka’bah atau menghadap ke arahnya, seperti orang yang sedang terikat dan tidak mampu untuk mengubah arahnya, maka dia shalat semampunya walaupun tidak menghadap kiblat. Syarat ini gugur darinya dengan kesepakatan para ulama karena ketidakberdayaannya untuk melakukannya.

Demikian juga ketika seseorang berada dalam pertempuran sengit, atau orang yang sedang lari dari musuh atau binatang buas yang mengejarnya, atau orang sakit payah yang tidak mampu menghadap kiblat, maka mereka shalat sesuai dengan keadaannya walaupun tidak menghadap kiblat.

5. Niat

Niat menurut bahasa adalah maksud dan tujuan.

Dalam istilah syari’at, niat adalah tekad yang kuat untuk mengerjakan suatu ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

Niat tempatnya di hati dan merupakan pekerjaan hati. Tidak ada perlunya melafazkan niat tersebut dengan lisan karena Nabi tidak pernah melakukannya dan tidak pernah diamalkan oleh para shahabatnya. Nabi ﷺ bersabda,

إنما الأعمَال بالنِيّاتِ

Amal-amal itu hanya bergantung dengan niatnya.” (HR. Al-Bukhary dan Muslim).

Disyaratkan niat iu harus menyertainya hingga selesai shalat. Jika seseorang memutuskan niatnya saat shalat, maka shalatnya batal.

shalat1

———————-

Footnotes :

[1] HR. Al-Bukhary (227) dan Muslim (673), dari Asma’ bintu Abi Bakr radhiyallahu ‘anhuma
[2]
HR. Abu Dawud (650), dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu
[3]
HR. Al-Bukhary (6025) dan Muslim (657) dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu
[4]
Karena kiblat penduduk Madinah berada di arah selatan

 
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment

 




 
 

 
 
 
knowledge is power