Sikap Al-Ghuluw (Berlebih-lebihan) dalam Beragama

 

Diantara pelajaran penting yang didapatkan dari ibadah haji ke Baitullah al-Haram adalah pentingnya bersikap pertengahan dalam segala urusan dan menjauhi sikap berlebih-lebihan atau meremehkan dalam  beragama.

Diantara momen yang sangat penting dalam pembahasan ini adalah melihat kepada petunjuk dan sunnah Nabi ﷺ dalam melontar Jamrah, kemudian silahkan Anda membandingkannya dengan perbuatan manusia.

Diriwayatkan oleh para Imam; Ahmad (I/215), an-Nasa’i (V/268) dan Ibnu Majah (no. 3069) dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata : Rasulullah ﷺ berkata kepadaku pada pagi hari Aqabah dan beliau sedang berada diatas untanya, “Kumpulkan untukku batu-batu kecil!

Aku mengumpulkan untuknya batu-batu kecil dari batu-batu yang dipakai melontar. Beliau ﷺ menimang-nimang batu-batu itu di tangannya dan bersabda,

أمثال هؤلاء فارموا

Dengan batu-batu yang seperti inilah kalian melontar.”

Kemudian beliau ﷺ bersabda,

أيها الناس، إياكم والغلو فى الدين، فإنما أهلك من كان قبلكم الغلو فى الدين

Wahai manusia, jauhilah sikap ghuluw (berlebih-lebihan) dalam agama! Karena sesungguhnya, yang membinasakan orang-orang terdahulu sebelum kalian adalah berlebih-lebihan dalam agama.”

1h

Sabda beliau : إياكم والغلو   umum untuk semua jenis sikap ghuluw dalam keyakinan atau amal perbuatan. Karena yang menjadi patokan adalah keumuman lafaz/redaksi hadits dan bukannya kekhususan sebab terucapkannya hadits tersebut. Seorang muslim dilarang untuk bersikap ghuluw dalam semua keadaan dan urusannya, serta diperintahkan untuk mengikuti jejak dan sunnah Rasulullah ﷺ dalam segala keadaannya.

Syaitan sangat antusias untuk memalingkan seorang hamba dan menjauhkannya dari jalan Allah yang lurus, entah itu dengan sikap ghuluw atau sikap meremehkan. Dan dia tidak akan peduli dengan cara mana saja dia akan berhasil. Berkata Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu, “Dan diantara makarnya –yaitu syaitan, semoga Allah melindungi kami dan Anda darinya- dia akan melihat jiwa sampai dia tahu dua kekuatan mana yang lebih dominan padanya; kekuatan maju melangkah dan keberanian, atau kekuatan bertahan, mundur dan kehinaan. Jika dia melihat yang dominan dalam jiwa adalah sifat kehinaan dan kemunduran, maka dia akan melemahkan obsesi dan keinginannya dari yang diperintahkan dan membuatnya memandang hal itu berat dan mulai membuatnya menganggap ringan persoalan tersebut, hingga akhirnya dia akan meninggalkannya secara keseluruhan atau meremehkan dan memudah-mudahkannya.

Jika dia melihat bahwa yang dominan padanya adalah kekuatan untuk maju dan tingginya obsesi, maka dia akan mulai membuatnya memandang sedikit urusan itu dan menanamkan dalam dirinya bahwa hal itu tidaklah cukup dan dia butuh tambahan yang lebih. Hingga akhirnya, dia pun lalai dari yang pertama dan melangkah jauh melampaui yang kedua…” (Ighâtsah al Lahafân, I/ 136).

Pertengahan dalam setiap urusan, dan menjauhi sikap ghuluw (ekstrim keras) dan memudah-mudahkan (ekstrim lunak) adalah manhaj yang lurus yang selayaknya ditempuh oleh setiap mukmin sebagaimana yang Allah perintahkan dalam Kitab-Nya dan diperintahkan oleh rasul-Nya ﷺ. Sikap pertengahan yang hak adalah dengan mengambil batasan yang telah Allah tetapkan untuk hamba-hamba-Nya, dengan tidak memasukkan apa yang bukan bagian darinya dan tidak juga mengeluarkan darinya apa yang ada didalamnya.

Nabi ﷺ bersabda,

القصد القصد تبلغوا

Bersikaplah pertengahan, bersikaplah pertengahan, niscaya kalian akan sampai!” (HR. Al-Bukhary, no. 6463)

Beliau ﷺ juga bersabda,

عليكم هديًا قاصدًا، فإنه من يشادّ الدين يغلبه

Wajib bagi kalian berpegang dengan petunjuk yang pertengahan. Karena siapa yang memberat-beratkan agama ini, niscaya dia akan dikalahkan olehnya.” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahîh al Jâmi’, no. 4086).

Dan berkata Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,

الاقتصاد فى السنة خير من الاجتهاد فى البدعة

“Pertengahan dalam Sunnah jauh lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam bid’ah.” (Riwayat Imam al-Lâlikâ’i dalam Syarh al I’tiqâd, I/88).

Agama Allah ini adalah agama yang pertengahan diantara orang yang berebih-lebihan dan orang yang suka meremehkan. Sebaik-baik manusia adalah orang yang pertengahan, yang menjauhkan dirinya dari kelalaian orang-orang yang suka meremehkan dan memudah-mudahkan, serta tidak mengikuti kekakuan dan ekstrimisme orang-orang yang melampaui batas. Ia hanya mencukupkan dirinya serta komitmen dengan petunjuk penghulu para nabi, manusia pilihan Rabb semesta alam dan qudwah (teladan) seluruh manusia, Muhammad bin Abdillah, ﷺ .

(Disadur dari kitab Durûs ‘Aqadiyyah Mustafâdah min al Hajj, Syaikh Dr. Abdurrazzâq bin Abdul Muhsin al-Abbâd al-Badr)

 
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment

 




 
 

 
 
 
knowledge is power