Home / Aqidah /

Sikap Ahlussunnah wal Jama’ah terhadap Penguasa Muslim

 

Ahlussunnah wal Jama’ah mengimani wajibnya taat kepada ulul amri (penguasa) dalam perkara yang ma’ruf sebagai sebuah prinsip agung dalam aqidah seorang muslim. Karenanya hampir tidak ada tulisan dalam buku-buku aqidah Salaf melainkan tercantum di dalamnya prinsip yang agung ini beserta penjelasannya sebagaimana yang telah dijelaskan.

Ahlussunnah wal Jama’ah memandang wajibnya shalat, melaksanakan jumat dan merayakan ‘id di belakang para penguasa, dan menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah kemungkaran, berjihad dan berhaji bersama mereka. Baik para penguasa itu orang-orang shalih atau pun buruk. Begitu pula mendoakan kebaikan untuk mereka serta bernasehat.

Ahlussunnah juga mengharamkan pemberontakan bersenjata terhadap mereka jika mereka melakukan suatu perbuatan mungkar, bersabar terhadap hal itu, tidak berperang dalam fitnah dan memerangi orang yang ingin memecah belah persatuan umat. Semua itu dilakukan semata-mata untuk mentaati perintah Nabi ﷺ yang menyuruh mentaati para penguasa dalam perkara yang bukan maksiat selama mereka tidak jatuh pada kekafiran.

Nabi ﷺ bersabda,

خيرُ أئمتكم الذينَ تُحبونهم ويحِبُّونكم ويصلون عليكم وتُصلون عليهمْ، وشِرارُ أئمتكم الذين تبغِضونهم ويبغِضُونكم وتلعنونهمْ ويلعنونَكم

Sebaik-baik pemimpin kalian adalah pemimpin yang kalian mencintai mereka dan mereka mencintai kalian, mereka berdoa untuk kalian dan kalian mendoakan mereka. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah pemimpin yang kalian membenci mereka dan mereka membenci kalian, kalian mengutuk mereka dan mereka mengutuk kalian.”

Ditanyakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, tidakkah kami memerangi mereka dengan senjata?”

Beliau menjawab,

لا، ما أقاموا فيكم الصَلاةَ، وإذا رأيتمْ من وُلاتكم شيئًا تكرَهونهُ فاكرهوا عَملهُ ولا تنزَعوا يدًا من طاعتِهِ

Jangan, selama mereka menegakkan pada kalian shalat. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang kalian benci, bencilah perbuatannya dan jangan melepaskan diri dari ketaatan.” (HR. Muslim).

Demikian perintah untuk taat dalam perkara yang ma’ruf. Adapun dalam perkara maksiat, tidak boleh taat kepada para hamba dalam perkara maksiat, namun tetap wajib menjaga kesetiaan dan tidak berlepas diri dari para penguasa dalam bai’at dan ketaatan yang ma’ruf sebagaimana yang disebutkan dalam hadits diatas.

Dan Nabi ﷺ bersabda,

لا طاعةَ فى معصيةِ الله إنما الطاعةُ فى المعروف

Tidak ada ketaatan dalam perkara maksiat kepada Allah. Ketaatan itu hanya dalam perkara yang ma’ruf.” (Muttafaq ‘alaih).

kursi

Bagi para penguasa, maka wajib atas mereka bertakwa kepada Allah Ta’ala dalam urusan rakyat yang dipimpinnya.

Hendaknya dia mengetahui bahwa Allah telah memilihnya dalam kepemimpinan umat ini adalah untuk mengayomi mereka, berkhidmat kepada agama Allah dan menegakkan syari’atNya.

Hendaknya dia menjadi orang yang kuat dan tidak takut celaan orang yang suka mencela, amanah terhadap rakyatnya, agama mereka, darah dan harta mereka, kehormatan dan maslahat mereka serta semua urusan mereka.

Nabi ﷺ bersabda,

مَا من عبدٍ يسترعِيهُ الله رعيّةً، يموتُ يومَ يموتُ وهو غاشٍّ لرَعيتِهِ إلا حرّم الله عليهِ الجنة

Tidaklah seorang hamba dibebankan Allah memimpin rakyatnya, kemudian dia mati pada hari kematiannya dalam keadaan berbohong kepada rakyatnya, melainkan Allah haramkan baginya surga.” (HR. Muslim).

(Disadur dari Al-Wajiz fi ‘Aqidah as-Salaf ash-Shalih)

 
Sikap Ahlussunnah wal Jama’ah terhadap Penguasa Muslim

Share this Post

 

Related Posts

 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment

 




 
 

 
 
 
knowledge is power