Shalatnya di Rumahnya lebih Utama

 

Wanita adalah fitnah bagi kaum laki-laki. Karenanya Syari’at memerintahkan untuk menjaganya dan menghijabinya dari kaum laki-laki

Demikian pula dalam persoalan shalat. Rasulullah ﷺ telah menjadikan shalatnya seorang wanita di rumahnya lebih utama daripada shalatnya di luar rumahnya, bahkan di masjidnya ﷺ, agar wanita tersebut tetap berada dalam “hijab” rumahnya dan terjaga dari pandangan kaum laki-laki.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anha, dari Nabi ﷺ beliau bersabda,

صلاة المرأة في بيتها أفضل من صلاتها في حجرتها وصلاتها في مخدعها أفضل من صلاتها في بيتها

Shalatnya seorang wanita di kamarnya lebih utama daripada shalatnya di ruangan rumahnya, dan shalatnya di ruang kamarnya lebih utama daripada shalatnya di kamarnya.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi, dishahihkan al-Albani).[1]

Dalam artian, semakin tertutup tempat shalat seorang wanita dan semakin jauh dari kaum laki-laki, maka itu semakin baik baginya.

muslimah1

Dari Ummu Humaid, istri Abu Humaid as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhuma, bahwa ia datang kepada Nabi dan berkata : Wahai Rasulullah, saya ingin shalat bersamamu.

Beliau berkata,

قد علمت أنك تحبين الصلاة معي وصلاتك في بيتك خير لك من صلاتك في حجرتك وصلاتك في حجرتك خير من صلاتك في دارك وصلاتك في دارك خير لك من صلاتك في مسجد قومك وصلاتك في مسجد قومك خير لك من صلاتك في مسجدي

Aku tahu bahwa engkau sangat ingin shalat bersamaku, namun shalatmu di kamarmu lebih baik bagimu daripada shalatmu di ruangan rumahmu. Dan shalatmu di ruangan rumahmu lebih baik daripada shalatmu di rumahmu. Dan shalatmu di rumahmu lebih baik daripada shalatmu di masjid kaummu. Dan shalatmu di masjid kaummu jauh lebih baik daripada shalatmu di masjidku.”

Maka ia (Ummu Humaid) menyuruh dibuatkan untuknya tempat shalat di tempat yang paling dalam dan gelap di rumahnya, dan ia shalat di tempat itu hingga ia menjumpai Allah ‘azza wa jalla. (HR. Ahmad, dishahihkan Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan al-Albani rahimahumullahu).

Dan diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa ia pernah mengomentari perbuatan para wanita di masanya. Aisyah berkata, “Andai Rasulullah menjumpai apa yang dibuat oleh wanita, niscaya beliau akan melarang mereka sebagaimana wanita-wanita Bani Israil dilarang (ke masjid).” (HR. Al-Bukhary dan Muslim).

Berkata Syaikh Abdul ‘Adzhim Abadi, “Shalat mereka (para wanita) di rumah lebih utama dikarenakan lebih aman dari fitnah. Dan hal tersebut lebih ditekankan lagi dengan adanya perkara yang dilakukan para wanita yaitu berdandan dan berhias, sehingga Aisyah mengucapkan apa yang ia ucapkan.” (‘Aun al Ma’bûd, II/193).

Semua ini dalam perkara shalat yang sangat agung dalam Islam. Bagaimana mungkin kemudian ada yang masih berpikir bahwa seorang wanita bisa saja keluar rumah untuk yang selain shalat dalam urusan yang tidak bersifat darurat atau dalam perkara yang bukan urusannya.

Wallahul musta’an.

—————-

[1] Kata (بيتها ) adalah kamar wanita tersebut. Kata (حجرتها ) maksudnya adalah ruangan rumah yang terdapat padanya pintu rumah dan jendela. Kata (مخدعها ) adalah semacam ruang kecil yang berada dalam sebuah ruangan besar, tempat penyimpanan barang-barang berharga. (penjelasan dari kitab ‘Aun al Ma’bûd Syarh Sunan Abî Dâwûd)

 
Shalatnya di Rumahnya lebih Utama

Share this Post

 

Related Posts

 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment

 




 
 

 
 
 
knowledge is power