Home / Fiqh /

Shalat-Shalat Fardhu

 

Shalat-shalat fardhu pada sehari dan semalamnya ada lima, yaitu Subuh, Dzhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya.

Perkara ini adalah perkara yang sudah mesti diketahui oleh setiap muslim (ma’lûm min ad dîn bi adh dharûrah), karena bisa kafir orang yang berani mengingkarinya.

Diriwayatkan dari Abu Razin rahimahullahu ia berkata : Nafi’ bin al-Azraq (seorang tokoh Khawarij) pernah mendebat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma : “Apakah engkau bisa mendapatkan shalat yang lima waktu itu dalam al-Quran?” Ibnu Abbas berkata : “Iya!” Kemudian Ibnu Abbas membacakan kepadanya,

(فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ) shalat Maghrib, (وَحِينَ تُصْبِحُونَ) shalat Fajar, (وَعَشِيًّا) shalat Ashar, (وَحِينَ تُظْهِرُونَ) shalat Dzhuhur[1], dan firmanNya (وَمِن بَعْدِ صَلَاةِ الْعِشَاء), shalat isya[2].[3]

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa shalat diwajibkan atas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada malam beliau isra’ sebanyak 50 shalat kemudian dikurangi hingga menjadi 5. Kemudian dikatakan,

يا محمد، إنه لا يبدل القول لديّ وإن لك بهذه الخمس خمسين

Wahai Muhammad, sesungguhnya tidak akan diubah perkataan di sisi-Ku, dan untukmu 50 ganjaran dengan 5 shalat tersebut![4]

Adapun jumlah rakaatnya, para ulama telah ber-ijma’ bahwa shalat-shalat Dzhuhur, Ashar dan Isya masing-masing berjumlah 4 rakaat, Maghrib 3 rakaat dan Subuh 2 rakaat.

Al-Bukhary (1090) dan Muslim (685) meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa ia berkata,

فُرِضَتِ الصَّلَاةُ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ فِي الْحَضَرِ وَالسَّفَرِ، فَأُقِرَّتْ صَلَاةُ السَّفَرِ، وَزِيدَ فِي صَلَاةِ الْحَضَرِ

“Shalat (pertama kali) diwajibkan dua rakaat-dua rakaat pada saat mukim dan safar. Kemudian shalat safar tetap pada hukum semula dan ditambahkan jumlah rakaat pada shalat mukim.”; yaitu khusus shalat yang empat rakaat.

Dalam Shahih Ibnu Khuzaimah (305) dan Shahih Ibnu Hibban (2738) dari Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata,

فَرْضُ صَلَاةِ السَّفَرِ وَالْحَضَرِ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ ، فَلَمَّا أَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ : زِيدَ فِي صَلَاةِ الْحَضَرِ رَكْعَتَانِ رَكْعَتَانِ ، وَتُرِكَتْ صَلَاةُ الْفَجْرِ لِطُولِ الْقِرَاءَةِ، وَصَلَاةُ الْمَغْرِبِ لِأَنَّهَا وِتْرُ النَّهَارِ

“Kewajiban shalat safar dan mukim adalah dua rakaat-dua rakaat. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bermukim di Madinah, ditambahkan pada shalat mukim 2 rakaat-2 rakaat, dan dibiarkan shalat fajar (seperti sediakala) karena panjangnya bacaan dan (demikian pula) shalat Maghrib karena dia adalah witirnya siang.” (Dihasankan Syaikh Syu’aib al-Arnouth dalam Shahih Ibn Hibban).

Dan dalam riwayat Imam Ahmad, Aisyah berkata,

كَانَ أَوَّلَ مَا افْتُرِضَ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَاةُ : رَكْعَتَانِ رَكْعَتَانِ ، إِلَّا الْمَغْرِبَ، فَإِنَّهَا كَانَتْ ثَلَاثًا، ثُمَّ أَتَمَّ اللهُ الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ وَالْعِشَاءَ الْآخِرَةَ أَرْبَعًا فِي الْحَضَرِ ، وَأَقَرَّ الصَّلَاةَ عَلَى فَرْضِهَا الْأَوَّلِ فِي السَّفَرِ

“Pertama kali shalat diwajibkan atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dua rakaat-dua rakaat kecuali Maghrib karena shalat Maghrib 3 rakaat. Kemudian Allah sempurnakan shalat Dzuhur, Ashar dan Isya menjadi 4 rakaat dalam kondisi mukim, dan dibiarkan seperti awal kewajibannya pada kondisi safar.”

shalat1

Berkata Imam Ibnul Mundzir rahimahullahu (Kitab Al-Ausath, II/318), “Para ulama bersepakat bahwa shalat Dzuhur 4 rakaat dengan bacaan yang dipelankan, duduk padanya dua kali duduk untuk tasyahhud pada setiap 2 rakaat; jumlah rakaat shalat Ashar 4 rakaat seperti shalat Dzuhur, tidak dijaharkan padanya bacaan dan duduk padanya dua duduk untuk tasyahhud pada setiap 2 rakaat; jumlah rakaat shalat Maghrib adalah 3 rakaat, dijaharkan pada 2 rakaat pertama dan dipelankan pada yang ketiga, dan duduk padanya pada 2 rakaat pertama untuk tasyahhud dan satu duduk pada rakaat terakhir; jumlah rakaat shalat Isya adalah 4 rakaat, dijaharkan bacaan pada 2 rakaat pertama dan dipelankan pada 2 yang terakhir, dan duduk padanya 2 duduk untuk tasyahhud pada setiap 2 rakaat; dan jumlah rakaat Subuh adalah 2 rakaat, dijaharkan bacaan pada keduanya dan duduk satu kali untuk tasyahhud. Itu adalah kewajiban orang yang mukim. Adapun musafir, maka kewajibannya adalah 2 rakaat kecuali shalat Maghrib, karena kewajiban musafir dalam shalat Maghrib sama dengan kewajiban orang yang mukim.”

Wallahu a’lam.

———————————

Footnotes :

[1] Yaitu dalam firman Allah surat Ar-Rum ayat 17-18 yang lengkapnya,

فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ، وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَعَشِيًّا وَحِينَ تُظْهِرُونَ

Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh. Dan baginya segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada waktu sore dan di waktu kamu berada di waktu dzuhur.”

[2] Potongan ayat pada surat An-Nur ayat 58 dalam persoalan waktu meminta izin, Allah menyebutkan salah satunya,

وَمِن بَعْدِ صَلَاةِ الْعِشَاء

Dan setelah shalat Isya.”

[3] Diriwayatkan oleh ath-Thabari dalam Tafsir-nya (XXI/20), Ibnul Mundzir dalam al-Ausath (II/322), al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra (I/359) dan ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir (X/304), dengan sanad yang hasan.

[4] Dalam hadits yang panjang, diriwayatkan al-Bukhary (349) dan Muslim (162).

 
Shalat-Shalat Fardhu

Share this Post

 

Related Posts

 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment

 




 
 

 
 
 
knowledge is power