Rujukan dalam Menafsirkan Al-Quran

 

Dalam menafsirkan al-Quran, maka yang menjadi rujukan dalam memahaminya adalah sebagai berikut,

1. Kalamullah. Al-Quran ditafsirkan dengan al-Quran, karena Dia-lah yang telah menurunkannya dan yang lebih mengetahui makna yang dinginkan darinya.

2. Kalam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. al-Quran ditafsirkan dengan Sunnah. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam adalah penyampai dari Allah. Beliau adalah orang yang paling tahu apa yang dinginkan Allah dari perkataanNya tersebut.

3. Perkataan para Shahabat, radhiyallahu ‘anhum. Karena, al-Quran turun dengan bahasa mereka dan di masa mereka. Dan mereka juga adalah orang-orang –setelah para nabi- yang paling jujur dalam mencari kebenaran, paling selamat dari memperturutkan hawa nafsunya dan paling bersih dari penyelisihan yang bisa menjadi penghalang antara seseorang dengan hidayah kebenaran.

4.  Perkataan Tabi’in yang memiliki perhatian besar untuk mengambil penafsiran al-Quran dari para Shahabat radhiyallahu ‘anhum. Karena, para Tabi’in adalah sebaik-baik manusia setelah Shahabat dan mereka jauh lebih selamat pemahamannya daripada orang-orang yang datang setelah mereka. Bahasa Arab pun belum banyak perubahan di masa mereka.

5. Terakhir, tafsiran al-Quran merujuk kepada apa yang merupakan konsekuensi dari sebuah perkataan dari makna-makna syar’i atau bahasa (lughawi) sesuai dengan redaksinya. Jika makna syar’i berbeda dengan makna bahasa maka diambil apa yang sejalan dengan konsekuensi syar’i karena al-Quran turun untuk menjelaskan Syari’at, kecuali jika ada sebuah dalil yang menguatkan makna bahasa, maka saat itulah merujuk kepada makna bahasa tersebut.

quran3

(dengan ringkas dari Ad-Durr ats-Tsamîn min Syarh Ushûl at-Tafsîr li_bni ‘Utsaimîn)

 
Rujukan dalam Menafsirkan Al-Quran

Share this Post

 

Related Posts

 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment

 




 
 

 
 
 
knowledge is power