Praktek Sihir dan Bahayanya

 

Sihir adalah ungkapan yang digunakan untuk segala sesuatu hal yang sebabnya samar, halus dan tidak jelas. Menurut istilah, dikarenakan sihir memiliki berbagai macam bentuk dan metode yang berbeda-beda, maka ulama pun berbeda dalam mendefinisikan makna sihir tersebut.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu menyebutkan bahwa sihir adalah “sebuah istilah yang menyatakan suatu pengaruh jiwa yang buruk dan kuatnya tabi’at dari pengaruh perbuatan sihir.” (Zâd al-Ma’âd, IV/125).

Sihir dapat Menjerumuskan kepada Syirik dan Kekafiran

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَيَاطِيْنَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَاسَ السِحْرَ

“Dan Sulaiman tidaklah kafir, akan tetapi para syaitan-lah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah ayat 102).

Sebagian ulama berdalil dengan ayat ini untuk menegaskan bahwa orang yang mempraktekkan ilmu sihir, maka dia telah kafir. Karena tidaklah para syaitan mengajarkan sihir kepada manusia melainkan dengan tujuan agar manusia mempersekutukan Allah.

sihirSyaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu dalam kitabnya Al-Qaul As-Sadîd fî Maqâshid At-Tauhîd menjelaskan bahwa ilmu sihir dapat dikategorikan sebagai perbuatan syirik ditinjau dari dua sisi;

Pertama, orang yang mempraktekkan ilmu sihir adalah orang yang meminta bantuan kepada para syaitan dari kalangan jin untuk melancarkan aksinya, dan betapa banyak orang yang terikat kontrak perjanjian dengan para syaitan tersebut akhirnya menyandarkan hati kepada mereka, mencintai mereka, mendekatkan diri kepada mereka dan bahkan sampai rela memenuhi keinginan-keinginan mereka.

Kedua, orang yang mempelajari dan mempraktekkan ilmu sihir adalah orang yang mendakwakan mengetahui perkara gaib. Dia telah berbuat kesyirikan kepada Allah dalam dakwaannya tersebut, karena tidak ada yang mengetahui perkara gaib selain Allah.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah merinci bahwa orang yang mempraktekkan sihir bisa jadi orang tersebut kafir, murtad dan keluar dari Islam, dan bisa jadi orang tersebut tidak kafir meskipun dengan perbuatannya tersebut dia telah melakukan dosa besar.

Tukang sihir yang mempraktekkan sihir dengan memperkerjakan tentara-tentara syaitan, yang pada akhirnya orang tersebut bergantung kepada syaitan, mendekatkan diri kepada mereka atau bahkan sampai menyembah mereka. Maka yang demikian tidak diragukan tentang kafirnya perbuatan semacam ini.

Adapun orang yang mempraktekkan sihir tanpa bantuan syaitan, melainkan dengan obat-obatan berupa tanaman ataupun zat kimia, maka sihir yang semacam ini tidak dikategorikan sebagai kekafiran. Wallahu a’lam. (Al-Qaul Al-Mufîd Syarh Kitâb At-Tauhîd, I/490)

Hukuman bagi Orang yang Mempraktekkan Sihir

Harus dibedakan antara persoalan kafirnya tukang sihir dan hukum membunuhnya. Karenanya, terlepas dari kafirnya atau tidaknya pelaku sihir (sesuai dengan perincian yang telah disebutkan), ulama berbeda pendapat tentang sanksi yang dijatuhkan kepadanya, apakah harus dihukum mati atau tidak dalam dua keadaannya tersebut?

Menurut Imam Malik dan Imam Ahmad, tukang sihir dihukum mati dalam keadaan apapun, baik dia kafir atau tidak dengan perbuatannya itu..

Sementara Imam asy-Syafi’i berpendapat bahwa pelaku sihir tidak dibunuh kecuali jika perbuatannya itu sampai pada derajat kekafiran.

Pendapat yang lebih tepat –wallahu a’lam- tukang sihir itu dibunuh secara mutlak, baik bentuk sihirnya itu dihukumi sebagai kekafiran atau hanya berstatus sebagai dosa besar.

Dari Jundub radhiyallahu ‘anhu ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

حَدُّ السَّاحِرِ ضَرْبَةٌ بِالسَّيْفِ

Hukuman bagi tukang sihir adalah dipenggal dengan pedang.” (HR. At-Tirmidzi no. 1460. Status hadits ini diperselisihkan. Pendapat yang kuat hadits ini mauqûf, hanya perkataan Jundub).

Dalam Shahîh Al-Bukhary, dari Bajalah bin ‘Abadah, ia berkata bahwa Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah menulis surat dan memerintahkan membunuh tukang sihir laki-laki dan tukang sihir perempuan. Bajalah berkata, “Dan kami telah membunuh tiga tukang sihir.”

Dari Hafshah Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha, ia memerintahkan untuk menghukum mati budak perempuan yang telah menyihirnya. Budak itu pun lantas dibunuh. (Riwayat Imam Malik dalam Al-Muwaththa’).

Namun yang perlu menjadi catatan dan wajib diperhatikan, vonis dan pelaksanaan hukuman seperti ini adalah wewenang pemerintah. Tidak setiap orang memiliki hak untuk menuduh seseorang melakukan sihir kemudian membunuhnya. Jika demikian keadaannya, akan terjadi kekacauan dan sangat mungkin seseorang akan menghilangkan nyawa orang lain tanpa haknya.

Wallahu a’lam.

 
Praktek Sihir dan Bahayanya

Share this Post

 

Related Posts

 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment

 




 
 

 
 
 
knowledge is power