Pokok-Pokok Keyakinan Mu’tazilah

 

Pada permulaannya, Mu’tazilah datang dengan dua pemikiran bid’ah;

Pertama, perkataan bahwa seorang manusia memiliki pilihan secara mutlak  dalam setiap perbuatannya, dan dialah yang menciptakan perbuatannya sendiri. Diantara tokoh yang sangat menonjol dalam pemikiran ini pada permulaannya adalah Ghailan ad-Dimasyqi di masa pemerintahan Umar bin Abdil Aziz hingga masa Hisyam bin Abdil Malik. Ia dibunuh oleh Hisyam disebabkan bid’ahnya tersebut.

Kedua, perkataan bahwa pelaku dosa besar bukanlah mukmin dan bukan pula kafir, akan tetapi fasik. Dia berada diantara dua kedudukan (manzilah baina al-manzilatain). Demikianlah keadaannya di dunia. Adapun di Akhirat, maka dia tidak akan pernah masuk Surga karena dia tidak beramal dengan amal ahli Surga, bahkan dia kekal dalam Neraka. Menurut mereka, tidak ada halangan untuk menyebut orang itu “muslim” dari sisi lahirnya dan mengucapkan syahadatain, akan tetapi dia tidak bisa disebut “mukmin”.

Kemudian setelah itu, Mu’tazilah menetapkan mazhab mereka dalam lima prisip; at-tauhîd, al-‘adl (keadilan), al-wa’d wa al-wa’îd (janji dan ancaman), al-manzilah baina al-manzilatain dan al-amr bil ma’rûf wa an-nahy ‘anil munkar.

1. At-Tauhîd

Ringkasnya menurut pandangan bid’ah mereka; Allah Ta’ala harus disucikan dari penyerupaan dengan makhluk, tidak ada seorang pun yang menandingi Dia dalam kekuasaanNya dan tidak berlaku baginya apa yang berlaku bagi para makhluk. Ungkapan seperti ini adalah benar, akan tetapi mereka membangun diatasnya keyakinan yang batil, diantaranya bahwa Allah tidak bisa dilihat pada Hari Kiamat karena konsekuensinya adalah menafikan (meniadakan) sifat, dan sifat itu bukanlah sesuatu selain Dzat-Nya, karena –menurut mereka- jika tidak demikian, maka Dzat yang qadim (terdahulu tanpa permulaan) tersebut akan berbilang. Karenanya mereka tergolong kelompok yang mengingkari sifat-sifat Allah Ta’ala. Demikian juga, dengan pemikiran batilnya itu mereka mengambil kesimpulan bahwa al-Quran adalah makhluk ciptaan Allah karena mereka menafikan dariNya sifat al-Kalam (berbicara).

2. Al-‘Adl

Maknanya menurut mereka bahwa Allah tidak menciptakan perbuatan para hamba, dan Dia juga tidak menyukai kerusakan. Bahkan, para hamba itu melakukan apa yang mereka perintahkan sendiri dan berhenti dari apa yang mereka larang sendiri dengan qudrah (kemampuan) yang Allah jadikan dan adakan dalam diri-diri mereka. Dia tidak memerintahkan kecuali dengan apa yang Dia inginkan dan tidak melarang kecuali dari apa yang Dia benci. Dia adalah pelindung bagi setiap kebaikan yang diperintahkanNya dan berlepas diri dari setiap keburukan yang dilarangNya. Dia tidak membebankan kepada para hamba kecuali apa yang mereka mampu dan Dia tidak menginginkan dari mereka selain apa yang ada dalam upaya dan kemampuan mereka. Pendapat seperti ini muncul karena rancunya mereka dalam membedakan antara iradah (kehendak) Allah al-kauniyyah dan iradahNya yang as-syar’iyyah.

3. Al-Wa’d wa Al-Wa’îd

Yang mereka maksudkan dengan prinsip ini bahwa Allah akan memberi balasan kebaikan kepada orang yang melakukan kebaikan dan membalas pelaku keburukan dengan keburukan, dan Dia tidak akan mengampuni bagi pelaku dosa besar kecuali jika dia bertaubat.

4. Al-Manzilah baina Al-Manzilatain

Yaitu keyakinan mereka bahwa pelaku dosa besar berada pada satu kedudukan antara iman dan kekafiran, bukan mukmin dan bukan pula seorang yang kafir. Aqidah ini telah ditetapkan sejak permulaan oleh syaikh Mu’tazilah, Washil bin Atha’.

5. A-Amr bi Al-Ma’rûf wa An-Nahy ‘an Al-Munkar

Mereka telah menetapkan wajibnya perkara ini bagi orang-orang mukmin dalam rangka menyebarkan dakwah Islam, hidayah bagi orang yang sesat dan petunjuk bagi orang yang lalai, setiap orang sesuai dengan kemampuannya; yang memiliki penjelasan dengan penjelasannya, seorang alim dengan ilmunya, yang memiliki senjata dengan senjatanya, dan seterusnya. Akan tetapi, hakikat dari prinsip ini sebenarnya adalah perkataan mereka tentang wajibnya memberontak terhadap penguasa muslim jika dia telah menyelisihi dan menyimpang dari kebenaran!

mutazilahDiantara prinsip pokok aqidah Mu’tazilah adalah bersandar sepenuhnya kepada akal dalam berargumen terhadap aqidah yang mereka yakini. Dan diantara akibat buruknya dari perkara ini, mereka menghukumi baik buruknya sesuatu dengan akal mereka. Demikian pula mereka menta’wil (menafsirkan) sifat-sifat Allah dengan apa yang mereka anggap cocok dengan akalnya. Dan sudah dimaklumi bahwa Mu’tazilah menafikan seluruh sifat-sifat Allah Ta’ala.

Karena bergantungnya kepada akal itu pulalah pembesar-pembesar mereka berani mencaci tokoh-tokoh Shahabat dan menuduh mereka berdusta. Washil bin Atha’ mendakwakan bahwa salah satu dari dua kelompok yang terlibat dalam perang Jamal adalah fasik. Entah kelompok Ali bin Abi Thalib, Ammar bin Yasir, al-Hasan, al-Husain dan Abu Ayyub, atau kelompok Aisyah, Thalhah dan az-Zubair. Mereka bahkan menolak persaksian para Shahabat yang mulia tersebut dengan mengatakan, “Persaksian mereka tidak diterima!”

Disebabkan oleh ketergantungan mereka kepada akal dan jauhnya mereka dari dalil-dalil shahih yang bersumber dari al-Quran dan as-Sunnah, mereka pun terpecah kedalam banyak firqah (sekte).

Demikianlah Mu’tazilah, mereka telah mengubah agama ini kepada kumpulan persoalan rasio dan argumen-argumen mantiq, disebabkan pengaruh besar yang masuk dalam keyakinan mereka yang berasal dari filsafat Yunani, terkhusus mantiq Arsitoteles.

Wallahu a’lam.

 

Sumber : Al Mausû’ah al Muyassarah fî al Adyân wa al Madzâhib wa al Ahzâb al Mu’âshirah, WAMY, cet. tahun 1424.

 
Pokok-Pokok Keyakinan Mu’tazilah

Share this Post

 

Related Posts

 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment

 




 
 

 
 
 
knowledge is power