Pokok-Pokok Keyakinan Firqah Al-Asyâ’irah

 

Diantara pokok-pokok aqidah yang diyakini oleh mazhab Asy’ari adalah sebagai berikut[1] :

1. Sumber talaqqî dalam mazhab Asy’ari adalah al-Kitab dan as-Sunnah sesuai dengan konsekuensi kaedah-kaedah ilmu Kalam. Karenanya, mereka lebih mendahulukan akal diatas dalil ketika terjadi kontradiksi.

2. Mereka tidak berhujjah dengan hadits Ahad dalam perkara aqidah karena hal itu –menurut mereka- tidak memberikan al-‘ilm al-yaqînî (ilmu yang yakin tanpa ada keraguan).

3. Mazhab Asy’ari menyelisihi aqidah Salaf dalam penetapan wujud Allah Ta’ala. Mereka sepakat dengan para ahli filsafat dan ahli kalam dalam berdalil tentang wujudnya Allah dengan perkataan mereka : “Alam ini adalah hâdits (sesuatu yang baru dan diadakan). Maka tidak boleh tidak, alam ini harus memiliki muhdits qadîm (Dzat yang mengadakannya, yang memiliki sifat qadîm/terdahulu tanpa permulaan). Dan yang terkhusus dari sifat al-Qadîm adalah mukhâlafatuhu li al-hawâdits (berbeda dari segala apa yang ada) dan tidak bercampurnya Dia pada hawâdits tersebut. Termasuk dalam sifat mukhâlafah-nya li al-hawâdits adalah : Dia bukan materi, bukan jasad, tidak berada di arah atau tempat tertentu.”[2]

Konsekuensi dari perkataan ini, mereka membangun diatasnya prinsip-prinsip keyakinan yang rusak yang tidak terbatas seperti pengingkaran mereka terhadap sifat-sifat ar-ridhâ (keridhaan), al-ghadhab (marah) dan al-istiwâ’ (bersemayam diatas ‘Arsy), dengan dalih bahwa menolak bercampurnya “al-hawâdits” pada “al-Qadîm” demi untuk membantah pemahaman tentang qadîm-nya alam ini. Sementara metode para Salaf adalah metode al-Quran dalam berdalil tentang wujudnya al-Khaliq subhanahu wa ta’ala.

4. Tauhid menurut Asy’ari adalah meniadakan berbilangnya Dzat dan menolak pembagian, susunan dan potongan. Dalam perkara ini mereka mengatakan : Sesungguhnya Allah itu Esa dalam Dzat-Nya tidak ada pembagian untuk-Nya, Esa dalam sifat-sifatNya tidak ada yang serupa dengan-Nya dan Esa dalam perbuatan-Nya tidak ada sekutu bagi-Nya. Karenanya, mereka menafsirkan al-Ilâh sebagai al-Khâliq (Pencipta) atau al-Qâdir (Yang berkuasa) dalam penciptaan. Dan mereka mengingkari sifat-sifat wajah, dua tangan dan mata, karena hal-hal itu –menurut mereka- membawa kepada pemahaman tentang adanya susunan dan bagian-bagian. Dengan ini, mazhab Asy’ari hanya menjadikan tauhid terbatas pada penetapan tauhid rububiyah Allah ‘azza wa jalla tanpa uluhiyyah-Nya dan menta’wil sebagian sifat-sifatNya.

masjidMereka juga meyakini wajibnya menta’wil sifat-sifat khabariyyah seperti wajah, dua tangan, mata, tangan kanan, telapak kaki dan jari-jari, dan juga sifat al-‘uluww (ketinggian) dan al-istiwâ’. Ulama-ulama mereka yang belakangan cenderung kepada mazhab tafwîdh, yaitu menyerahkan makna-makna sifat-sifat tersebut kepada Allah Ta’ala dengan keyakinan bahwa hal itu merupakan kewajiban sebagai konsekuensi dari pensucian Allah Ta’ala. Tidak cukup dengan itu, mereka bahkan juga melebar dalam masalah ta’wil hingga mencakup sebagian besar dalil-dalil tentang keimanan, khususnya yang berkait dengan bertambah dan berkurangnya iman, serta persoalan kema’shuman para nabi.

5. Mazhab Asy’ari dalam persoalan iman berada diantara pemikiran Murji’ah yang mengatakan cukup mengucapkan syahadatain untuk sahnya iman seseorang tanpa perlu adanya amal, dan antara pemikiran Jahmiyah yang mengatakan cukup dengan pembenaran dalam hati. Hal ini sangat bertentangan dengan prinsip Ahlussunnah wal Jama’ah yang mengatakan bahwa iman adalah ucapan, amal dan keyakinan hati, dan menyelisihi dalil-dalil al-Quran yang sangat banyak.

6. Mazhab Asy’ari bimbang dalam persoalan takfîr (vonis kafir). Terkadang mereka mengatakan: Kami tidak mengkafirkan seorang pun; terkadang mereka mengatakan: Kami tidak mengkafirkan kecuali siapa yang kami kafirkan; dan terkadang mereka mengatakan tentang perkara-perkara yang mewajibkan vonis fasik dan bid’ah atau perkara-perkara yang tidak berkonsekuensi pada vonis kafir dan bid’ah.

Adapun Ahlussunnah wal Jama’ah memandang bahwa takfir adalah hak Allah yang tidak dijatuhkan kecuali kepada yang berhak sesuai dengan pandangan syar’i. Dan tidak ada keraguan untuk menetapkannya kepada orang yang telah pasti kekufurannya dengan adanya syarat-syarat takfir dan hilangnya penghalang-penghalang untuk jatuhnya vonis tersebut.

7. Mereka mengatakan bahwa al-Quran bukanlah Kalâm Allah menurut hakikatnya, akan tetapi ia adalah kalâm nafsî, dan bahwa kitab-kitab yang diturunkan adalah makhluk.

8. Mereka mengatakan bahwa Allah bisa dilihat. Allah ada dan bisa dillihat dengan pandangan. Akan tetapi, mereka beranggapan bahwa pandangan tersebut tidak boleh dikaitkan dengan arah, tempat, bentuk dan saling berhadapan, karena yang demikian itu adalah perkara yang mustahil. Pendapat mereka ini meniadakan sifat ketinggian Allah dan arahnya, bahkan meniadakan penglihatan itu sendiri.

9. Pelaku dosa besar jika keluar dari dunia ini tanpa taubat maka hukumnya dikembalikan kepada Allah; Dia akan mengampuninya dengan kasih sayangNya, atau diberikan syafa’at oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal ini selaras dengan mazhab Ahlussunnah wal Jama’ah.

10. Mazhab Asy’ari meyakini bahwa kemampuan (qudrah) seorang hamba  tidak memiliki pengaruh terhadap apa yang ada dalam kemampuannya itu (perbuatannya), tidak pula pada salah satu dari sifat-sifatNya. Dan Allah memperjalankan sebuah kebiasaan (perbuatan) dengan menciptakan apa yang dalam kemampuannya itu, selaras dengannya. Dengan demikian, perbuatan hamba tersebut adalah ciptaan (khalq) dari Allah Ta’ala, dan usaha (kasb) dari hamba untuk terjadinya hal itu yang sejalan dengan kemampuannya.

11. Mazhab Asy’ari sejalan dengan Ahlussunnah dalam iman tentang alam barzakh dan perkara-perkara akhirat; mahsyar, timbangan, shirât, syafa’at, surga dan neraka.

12. Mereka juga sejalan dalam persoalan para Shahabat, urutan khilafah mereka, dan apa yang terjadi diantara mereka adalah perkara ijtihad yang bersumber dari mereka. Karenanya, wajib menahan diri untuk berbicara tentang perselisihan yang terjadi diantara para Shahabat, karena celaan terhadap mereka akan berkonsekuensi pada kekufuran, atau bid’ah atau kefasikan. Mereka juga memandang bahwa khilafah untuk Quraisy, boleh shalat di belakang imam yang baik maupun jahat, tidak boleh memberontak terhadap para penguasa yang zalim, dan perkara-perkara ibadah dan mu’amalah lainnya.

———————————–

[1] Seengkapnya dirujuk ke kitab Al Mausû’ah al Muyassarah fî al Adyân wa al Madzâhib wa al Ahzâb al Mu’âshirah.

[2] Kami memohon ampun kepada Allah atas tulisan ini. Kami semata-mata hanya menukil perkataan mereka yang sangat lancang berbicara tentang Dzat Yang Maha Mulia dengan akalnya.

 
Pokok-Pokok Keyakinan Firqah Al-Asyâ’irah

Share this Post

 

Related Posts

 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment

 




 
 

 
 
 
knowledge is power