Perayaan Hari Besar yang Tidak Memiliki Keutamaan dalam Syari’at

 

Diantara bid’ah yang banyak terjadi di umat ini adalah perayaan terhadap suatu hari atau malam tertentu yang padanya pernah terjadi sebuah peristiwa besar, akan tetapi tidak terdapat dalil dalam agama Allah yang menyebutkan tentang keutamaan hari atau malam tersebut, atau perintah untuk beribadah padanya atau merayakannya.

Contoh dari bid’ah dalam kategori ini adalah perayaan hari yang dikatakan pada malamnya terjadi peristiwa Isra’ dan Mi’raj, yang umum dirayakan pada malam 27 Rajab.[1]

Demikian juga hari yang dianggap sebagai hari kelahiran Nabi ﷺ, walaupun sebenarnya para ulama tidak pernah sepakat tentang hari kelahiran beliau tersebut.[2]

Para ulama sepakat bahwa para Salaf radhiyallahu ‘anhum dari tiga generasi pertama Islam tidak pernah merayakan perayaan-perayaan tersebut.

Mereka adalah orang-orang yang paling besar cintanya terhadap Nabi ﷺ, namun tidak dinukil dari salah seorang mereka tentang disyari’atkannya perayaan-perayaan itu.

Ketika kaum muslimin meniru-niru kebiasaan orang-orang diluar mereka dalam perayaan-perayaan bid’ah tersebut, hal itu justru menjerumuskan mereka kepada bid’ah-bid’ah lainnya, seperti zikir-zikir berjamaah, menyanyikan shalawat-shalawat bid’ah, berdiri pada saat perayaan yang mereka yakini bahwa Nabi ﷺ hadir dalam perayaan itu, dan bahkan mengantarkan mereka kepada sebagian perbuatan syirik ketika telah melampaui batas dalam memuji Nabi ﷺ hingga mengangkatnya kepada level yang tidak pantas untuknya kecuali Allah ‘azza wa jalla.

Demikianlah akibat buruk bid’ah yang berdampak besar kepada para pelakunya. Dan benarlah sabda Nabi ﷺ,

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. An-Nasa’i)

Bid’ah adalah kesesatan, yang akan mengantarkan kepada kesesatan lainnya.

Seorang muslim yang benar-benar mencintai Nabi ﷺ, lebih dari cintanya kepada orang tua, anak dan dirinya sendiri, hendaknya ia berjalan diatas jalan dan petunjuk Sang Kekasih ﷺ. Itulah jalan keselamatan dari berbagai macam fitnah dan penyimpangan yang banyak terjadi di umat ini.

Semoga Allah berkenan memperbaiki keadaan umat ini dan mengembalikan mereka kepada petunjuk Kitab-Nya dan sunnah nabi-Nya.

menara

———————

Footnotes :

[1] Imam az-Zuhri mengatakan bahwa peristiwa tersebut terjadi setahun sebelum hijrah. Ibnu Ishaq berpendapat bahwa Isra’ terjadi 10 tahun setelah kenabian, sebelum wafatnya Abu Thalib dan Khadijah. As-Suddi menyebutkan : 16 bulan sebelum hijrah. Sementara al-Bukhary mengatakan : setelah wafatnya Abu Thalib. Harinya juga diperselisihkan dalam beberapa pendapat; ada yang mengatakan pada 27 Rajab tahun ke 10 setelah kenabian, pendapat lain : 17 Ramadhan tahun ke 12 setelah kenabian atau di bulan Muharram, dan ada juga yang mengatakan : 17 Rabi’ul Awwal tahun 13 setelah kenabian.

[2] Sebagian pendapat mengatakan bahwa beliau ﷺ dilahirkan di bulan Ramadhan, sebagian mengatakan di bulan Rajab, dan yang masyhur pendapat yang mengatakan bahwa beliau lahir di bulan Rabi’ul Awwal. Yang berpendapat bahwa beliau lahir di bulan Rabi’ul Awwal juga berbeda tentang hari kelahirannya. Yang paling masyhur adalah 12 Rabi’ul Awwal. Ada pula yang mengatakan pada hari ke 2, 9, 10, 17, 18 dan 22. Dari semua pendapat tersebut, tidak satu dalil pun yang bisa menguatkannya.

 
Perayaan Hari Besar yang Tidak Memiliki Keutamaan dalam Syari’at

Share this Post

 

Related Posts

 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment

 




 
 

 
 
 
knowledge is power