Paradoks Pernikahan

 

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Usia diperbolehkan menikah terus diupayakan oleh berbagai elemen untuk dinaikkan, dari 16 menjadi 18 dan ini masih terus ada upaya untuk menaikkan usia dibolehkan menikah dengan alasan kematangan emosi, kematangan kepribadian dan yang serupa dengan itu untuk menjalani kehidupan rumah-tangga. Tetapi pada saat yang sama justru kita dihadapkan pada fakta bahwa angka perceraian di Indonesia terus meningkat.

Sekedar gambaran. Tahun 2009 terjadi 216.286 kasus perceraian. Jumlah ini meningkat di tahun 2010 menjadi 285.184 kasus. Ada penurunan di tahun 2011, yakni 258.119 kasus, tetapi kita perlu memeriksa lebih lanjut apakah benar-benar terjadi penurunan ataukah kasusnya yang belum selesai diputus di tahun itu. Salah satu yang patut menjadi perhatian adalah lonjakan yang sangat dramatis di tahun 2012, yaitu 372.577 kasus. Sedangkan tahun 2013 ada 324.527 kasus perceraian.

Ada hal yang senantiasa menggelitik saya sebagai orang yang pernah belajar sedikit tentang psikologi. Jika yang diharapkan adalah tingkat kedewasaan yang semakin matang, mengapa disederhanakan dengan penambahan usia? Padahal semakin bertambah usia tidak dengan sendirinya menjadi seseorang semakin dewasa. Alangkah banyak orang yang usianya sudah lebih dari cukup, tetapi tetap kekanak-kanakan. Tidak semakin matang dan masih sangat bergantung kepada orangtua.

Jadi, mengapa tidak memusatkan perhatian terhadap bagaimana menjadikan orang-orang yang masih membujang itu semakin memiliki kedewasaan dan kematangan pribadi?

Love

Tingkat kedalaman mengenal calon suami-istri diyakini berperan penting terhadap keharmonisan rumah-tangga dan ketahanan keluarga, tetapi yang kita dapati justru memberi gambaran yang sangat berbeda. Makin banyak yang melakukan perceraian dengan usia pernikahan yang semakin singkat, justru didahului masa “pengenalan” (pacaran) yang sangat panjang. Mereka mengenal begitu lama dan memiliki harapan yang sangat tinggi, sedemikian tinggi harapan itu sehingga justru makin mudah kecewa tatkala mendapati hal-hal yang tidak sesuai.

 
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment

 




 
 

 
 
 
knowledge is power