Munculnya Firqah Mu’tazilah

 

Sebelum munculnya Mu’tazilah sebagai sebuah firqah (sekte) pemikiran di tangan Washil bin Atha’, telah terjadi perdebatan yang merupakan bibit awal pemikiran Mu’tazilah. Perdebatan tersebut beredar pada persoalan-persoalan berikut ini,

  1. Perkataan bahwa manusia sepenuhnya bebas dan dialah yang menciptakan perbuatannya sendiri. Pendapat ini dimunculkan oleh Ma’bad al-Juhani yang ikut dalam pemberontakan Abdurrahman bin al-Asy’ats terhadap pemerintahan Abdul Malik bin Marwan. Ma’bad dibunuh oleh al-Hajjaj pada tahun 80 H setelah gagalnya pemberontakan tersebut. Pendapat ini pula yang disebutkan oleh Ghailan ad-Dimasyqi pada masa Umar bin Abdil Aziz, dan ia dibunuh oleh Hisyam bin Abdil Malik.
  2. Perkataan tentang makhluknya al-Quran dan penolakan terhadap sifat-sifat Allah Ta’ala. Pemikiran ini dibawa oleh al-Jahm bin Shofwan, dan ia dibunuh oleh Salim bin Ahwaz di Merv pada tahun 128 H.
  3. Diantara orang-orang yang mengatakan tentang penolakan sifat-sifat Allah adalah al-Ja’ad bin Dirham yang dibunuh oleh Khalid bin Abdillah al-Qusari, gubernur Kufah.

Setelah itu, muncullah Mu’tazilah sebagai sebuah sekte pemikiran melalui Washil bin ‘Atha al-Ghazzal (80-131 H) yang dahulunya merupakan murid al-Hasan al-Bashri, kemudian ia berpisah dari majelis al-Hasan setelah mengemukakan pendapatnya bahwa pelaku dosa besar berada pada satu diantara dua tempat (manzilah baina al manzilatain) yaitu bukan mukmin dan bukan pula kafir, dan dia kekal di Neraka jika belum bertaubat sebelum kematiannya. Firqah Mu’tazilah yang dinisbatkan padanya disebut al-Washiliyah.

Karena prinsipnya yang sangat mengagungkan akal dalam memahami persoalan-persoalan aqidah, Mu’tazilah terpecah ke dalam banyak sekte walaupun semuanya sepakat dalam 5 prinsip pokoknya yang akan dijelaskan. Setiap sekte akan datang dengan bid’ah baru yang membuatnya berbeda dari sekte lainnya, dan menamakan dirinya dengan tokohnya.

Pada masa Daulah Abbasiyah, Mu’tazilah muncul di masa pemerintahan al-Ma’mun, ketika ia menganut paham tersebut melalui Bisyr al-Mirrisi, Tsumamah bin Asyras dan Ahmad bin Abi Du’ad. Nama terakhir ini merupakan seorang tokoh bid’ah mazhab i’tizâl di zamannya, biang dari munculnya fitnah perkataan bahwa al-Quran adalah makhluk dan menjabat hakim agung di masa al-Mu’tashim.

Di masa fitnah tersebut, Imam Ahmad telah menolak perintah al-Ma’mun untuk mengakui bid’ah ini. Ia pun akhirnya dipenjara, disiksa dan dicambuk pada masa al-Mu’tashim setelah wafatnya al-Ma’mun. Imam Ahmad berdiam di penjara selama dua tahun setengah dan kemudian dikembalikan ke rumahnya. Beliau dalam keadaan demikian sepanjang pemerintahan al-Mu’tashim dan putranya, al-Watsiq.

Ketika al-Mutawakkil memangku jabatan khilafah (232 H), ia membela Ahlussunnah, memuliakan Imam Ahmad dan menghentikan masa kekuasaan Mu’tazilah dalam pemerintahan dan usaha mereka untuk memaksakan aqidahnya dengan kekuatan selama 14 tahun.

Pada masa kerajaan Syiah, Bani Buwaih tahun 334 H di Persia, semakin eratlah hubungan antara Syiah dan Mu’tazilah. Mu’tazilah semakin mendapatkan tempat di bawah naungan kerajaan ini. Ditunjuklah al-Qadhi Abdul Jabbar, tokoh senior Mu’tazilah di masanya sebagai qadhi (hakim) Ray pada tahun 360 H dengan perintah ash-Shahib bin Abbad, perdana menteri Mu’ayyid ad-Daulah al-Buwaihi, dan ia tergolong penganut Rafidhah dan Mu’tazilah sekaligus.

Setelah itu, hampir saja pemikiran i’tizâl hilang sebagai sebuah pemikiran tersendiri, selain apa yang diambil dan diyakini oleh sebagian sekte-sekte Syiah dan lainnya dari pemikiran-pemikiran mereka.

Pada masa sekarang, pemikiran i’tizal kembali dihidupkan oleh sebagian penulis dan pemikir yang tergolong dalam neo-Mu’tazilah yang sangat mengagungkan dan memuliakan akal/logika.

Sumber : Al Mausû’ah al Muyassarah fî al Adyân wa al Madzâhib wa al Ahzâb al Mu’âshirah, WAMY

 
Munculnya Firqah Mu’tazilah

Share this Post

 

Related Posts

 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment

 




 
 

 
 
 
knowledge is power