Mentauhidkan Allah dalam Penyembelihan Qurban

 

Diantara hari-hari Allah yang sangat agung adalah “yaum an-nahr”, yaitu hari ke 10 Dzulhijjah, atau hari Idul Adha yang diberkahi.

Hari itu disebut dengan yaum an-nahr karena pada hari itu kaum muslimin di seluruh dunia, baik yang sedang menunaikan haji maupun tidak, menyembelih hewan-hewan qurban mereka dalam rangka untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Yang Maha Esa.

Menyembelih adalah salah satu jenis ibadah yang dengannya kaum muslimin mendekatkan diri-diri mereka kepada Allah Ta’ala, baik itu berupa al-hadyu (hewan yang disembelih dalam haji), al-udhiyah (qurban yang disembelih diluar haji), aqiqah, nadzar dan lain-lainnya. Sebagaimana ibadah-ibadah lainnya, ibadahnya seorang muslim dalam penyembelihan tidak boleh dipersembahkan untuk yang selain Allah Ta’ala.

Diriwayatkan oleh Ali bin Thalib radhiyallahu ‘anhu ia berkata : Rasulullah ﷺ telah menyampaikan kepadaku tentang empat kalimat,

لعن الله من ذبح لغير الله، ولعن الله من لعن والديه، ولعن الله من آوى محدثًا، ولعن الله من غير منار الأرض

Allah melaknat orang menyembelih untuk selain Allah, Allah melaknat orang yang melaknat kedua orang tuanya, Allah melaknat orang menyembunyikan pelaku kejahatan dan Allah melaknat orang yang mengubah patok-patok tanah.” (HR. Muslim).

Keempat perkara ini adalah perbuatan-perbuatan yang mendatangkan laknat Allah Ta’ala, yaitu dijauhkannya orang tersebut dari rahmat dan kasih sayangNya. Dan dari empat perkara itu, yang paling buruknya dan berbahaya adalah menyembelih untuk selain Allah Ta’ala. Karena menyembelih untuk selain Allah adalah syirik, sementara tiga perkara lainnya adalah dosa-dosa besar yang tidak sampai pada level kesyirikan.

Setiap sembelihan untuk yang selain Allah yang dilakukan dalam bentuk ibadah, pemujaan dan pendekatan diri adalah syirik, sekecil apapun yang dipersembahkan dalam penyembelihan tersebut.

Imam Ahmad meriwayatkan dalam kitab Az-Zuhd (hal. 32-33), Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (I/203) dan lain-lain dari Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, dengan sanad yang shahih mauquf sampai kepadanya, ia berkata, “Seorang laki-laki masuk surga disebabkan oleh lalat dan seorang yang lainnya masuk neraka disebabkan oleh lalat.” Mereka bertanya, “Bagaimana hal itu terjadi?” Ia berkata, “Dua orang laki-laki dari masa sebelum kalian melewati satu kaum yang memiliki berhala. Tidaklah seseorang melewati mereka kecuali akan mempersembahkan sesuatu untuk berhala mereka. Mereka berkata kepada salah satu dari keduanya, ‘Persembahkan sesuatu!’ Ia berkata, ‘Saya tidak memiliki sesuatu.’ Mereka berkata, ‘Persembahkan walaupun hanya seekor lalat.’ Maka ia berqurban dengan seekor lalat dan ia (dibolehkan) pergi hingga akhirnya masuk neraka. Mereka berkata kepada yang satunya, ‘Berqurbanlah!’ Ia berkata, ‘Aku tidak akan persembahkan sesuatu qurban kepada seorang pun selain Allah ‘azza wa jalla!’ Mereka akhirnya memenggal lehernya dan ia pun masuk surga.”

Perhatikanlah bagaimana persembahan kecil yang tidak bernilai itu telah mengantarkan seseorang kepada neraka Allah Ta’ala, karena orang itu telah melakukan kesyirikan yang sangat besar dosanya di sisi Allah Ta’ala.

Maka bagaimana lagi orang-orang yang sengaja memelihara dan menggemukkan hewan-hewan ternaknya untuk dipersembahkan kepada orang-orang mati yang dikultuskannya dan dianggap sebagai wali yang berhak mendapatkan persembahan sembelihan qurbannya?! Atau dipersembahkan kepada gunung, lautan, pohon atau tempat yang dikeramatkan?! Atau dipersembahkan kepada jin?! Atau orang yang menyembelih hewan dan kepalanya ditanam dalam proyek pembangunan jembatan dan sebagainya?!

0b

Kesyirikan begitu banyak tersebar di sekitar kita. Sepatutnya setiap kita waspada dan bekerja keras untuk menyelamatkan diri, keluarga dan masyarakat dari dosa-dosa syirik yang bisa mendatangkan murka Allah Ta’ala.

Semoga Allah melindungi kita dari kesyirikan, yang besar dan kecilnya, yang nampak dan tersembunyi. Amin!

 
Mentauhidkan Allah dalam Penyembelihan Qurban

Share this Post

 

Related Posts

 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment

 




 
 

 
 
 
knowledge is power