Home / Fatwa /

Membangun Kuburan & Memberikan Penerangan

 

Keputusan Hai-ah Kibâr al Ulamâ no. 49 tanggal 20 Sya’ban 1396

Dengan mempertimbangkan bahwa kuburan adalah tempat untuk mengambil ibrah, pelajaran dan mengingat akhirat, sebagaimana dalam Shahîh Muslim (976) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata : Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menziarahi kubur ibunya dan beliau menangis, dan menangislah siapa yang ada di sekelilingnya. Beliau bersabda,

استأذنت ربي أن أستغفر لأمي فلم يؤذن لي، واستأذنته أن أزور قبرها فأذن لي، فزوروا القبور فإنها تذكركم بالموت

Aku telah meinta izin Rabb-ku untuk memohonkan ampun untuk ibuku dan aku tidak diizinkan untuk hal itu. Aku lalu meminta izin kepada-Nya untuk menziarahi kuburnya dan Dia mengizinkanku. Ziarahilah kubur, karena hal itu akan mengingatkan kalian kepada kematian.”;

Dan memperindah kuburan dengan hamparan pepohonan, mengeraskan jalan, meneranginya dengan listrik, dan yang selain itu dari berbagai bentuk pemugaran tidak sejalan dengan hikmah syari’at dalam perkara ziarah kubur dan mengingat akhirat dengan ziarah tersebut. Karena memperindah kuburan sebagaimana disebutkan akan memalingkan dari mengambil pelajaran dan ibrah, serta menguatkan sisi terpedayanya (seseorang) dengan kehidupan dan melupakan akhirat. Terlebih lagi adanya peringatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam perihal memberi penerangan di kubur dan laknat beliau terhadap pelakunya. Juga telah disebutkan darinya bahwa ia melaknat wanita-wanita yang menziarahi kubur, orang-orang yang menjadikan kubur itu sebagai tempat-tempat ibadah dan membuatkan penerangan. Karena perbuatan itu menyerupai ahli kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani dalam hal menanam pepohonan untuk kuburan mereka serta memperindahnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang untuk menyerupai mereka. Dan juga dikarenakan perbuatan itu mengantarkan kuburan itu kepada bentuk pelecehan dengan meremehkannya, berjalan diatasnya, duduk diatasnya dan yang semacamnya; perkara yang tidak selaras dengan kehormatan orang-orang yang telah wafat.

Karenanya, Majelis menetapkan dengan ijma’ haramnya memperbagus kuburan, tidak dengan menanam pepohonan, tidak dengan memberikan penerangan, dan tidak juga dengan segala bentuk penataan, dan agar (kuburan itu) tetap sebagaimana adanya dahulu di masa as-Salaf ash-Shalih. Dan agar kuburan tetap menjadi sumber nasehat dan pelajaran. Wa bi_llâhi at-taufîq.

وصلى الله على نبينا محمدٍ وعلى آله وصحبه وسلم

Hai-ah Kibâr al Ulamâ

baqee01

Gbr : Pemakaman Baqi’ di Kota Madinah, KSA

—————————–

(Sumber : Taudhîh al Ahkâm min Bulûgh al Marâm, Syaikh Dr. Abdullah al-Bassam)

 
Membangun Kuburan & Memberikan Penerangan

Share this Post

 

Related Posts

 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment

 




 
 

 
 
 
knowledge is power