Home / Da'wah /

Jangan Pernah Tergesa-gesa

 

Tulisan ini kami kutipkan kembali untuk Anda, kader-kader dakwah dan para pejuang dakwah di jalan Allah Ta’ala.

Semoga kita bisa kembali mengoreksi diri kita, untuk kebaikan dakwah Islam di masa depan. Kebaikan diri, keluarga dan masyarakat kita.

Fenomena isti’jal (ketergesaan) di jalan dakwah bukanlah hal baru dalam cerita dakwah dan pergerakan Islam. Kisah yang selalu berulang dan sedikit yang mampu mengambil pelajaran darinya. Mudah-mudahan kita bukan bagian dari mereka yang terperosok dalam kesalahan tersebut.

Hanya dengan komitmen yang tinggi kepada manhaj dan tsiqah kepada bimbingan para ulama senior-lah (kami sebut “ulama”, bukan hanya sekedar da’i atau dosen senior di sebuah universtas Islam besar di Timur Tengah) yang akan menjaga kita agar tidak salah dalam menempuh jalan yang panjang ini.

Semoga Allah memaafkan segala kelalaian dan kekhilafan.

* * *

Betapa seringnya kita, para penempuh jalan dakwah ini menjadi resah sendiri. Di banyak tempat, kita sering menyaksikan fenomena ketidak-sabaran dalam menjalani dan melewati aral, onak dan duri dalam kisah kemuliaan dakwah ini. Suatu saat kita mendengar dan menyaksikan para pemuda Islam melakukan penghancuran dan perusakan atas nama jihad. Di kali yang lain, ketidak sabaran itu mewujud dalam berbagai vonis-vonis kesesatan dan pengkafiran yang begitu mudah terucapkan atau tertuliskan. Dan di waktu yang lain, ketergesaan itu diwujudkan dalam bentuk kepercayaan diri yang berlebihan untuk memasuki dunia politik praktis; seolah itu menjadi sebuah jaminan (baca: satu-satunya jalan) untuk mewujudkan Islam dengan seluruh perangkat komprehensifnya.

Marilah kita berbincang sedikit tentang mereka yang sibuk dengan politik praktis. Di sebuah negeri antah-berantah, sejumlah pemuda Islam yang sebelumnya sibuk dengan tarbiyah tiba-tiba mewujud menjadi sebuah partai politik. Entah apa yang menjadi pertimbangan mereka. Mungkin saja dakwah. Dan benar sekali bahwa Islam memiliki satu bagian penting yang dikenal dengan istilah Siyasah Syar’iyah atau politik yang berlandaskan syariat, -sekali lagi- berlandaskan syariat!!

Tetapi mengatas-namakan “dakwah” itu kemudian semakin tidak jelas saja dari waktu ke waktu. Entah dakwah apa yang mereka maksud. Karena atas nama kemaslahatan dakwah, para ikhwannya sudah mulai boleh mencukur jenggot dan isbal. Para akhawatnya dari waktu ke waktu semakin enjoy mengenakan jilbab tabarrujnya, dengan alasan agar tidak terkesan tertutup dan membuat orang lari. Berbagai event dan acara besar yang diselenggarakan sudah tidak lagi mempersoalkan ikhtilath atau percampur-bauran antara tamu pria dan wanita. Atas nama dakwah, terkadang garis toleransi menjadi demikian kaburnya. Kelak, bisa saja sang partai akan merobek batas itu jika harus memenuhi target suara tertentu! Yah, jika yang selalu menjadi orientasi adalah mempertahankan eksistensi partai, maka sangat mungkin terjadi “penghalalan” segala cara (seperti kasus “caleg non muslim”)

Ini mungkin salah satu contoh dari ketergesa-gesaan itu.

jgn tergesa

Maka sekedar mengingatkan, jalan dakwah ini adalah jalan yang sangat panjang. Para penempuhnya harus memiliki persediaan kesabaran yang berlimpah untuk melewati jejak-jejaknya. Yah, harus ada ‘azam yang teguh layaknya para rasul ulul ‘azmi dari kalangan rasul. Kelak di ujung jalan usia kita menempuh jalan dakwah itu, mungkin kita berpulang pada Allah dengan 100 pengikut, 50, 20, 5, 1, atau tanpa pengikut sama sekali. Tidak masalah. Sebab di jalan ini, yang terpenting adalah sudahkah kita menyampaikannya. Ada yang ikut atau tidak, semua itu di Tangan Allah Ta’ala.

Sebaliknya, seorang penempuh jalan dakwah harus terus menjaga keikhlasan hatinya, terutama dari penyakit ghurur. Jangan tertipu dengan ramainya khalayak pengikut yang terpesona dengan dakwah Anda. Jika kelak Allah mentakdirkan ada puluhan ribu, bahkan jutaan kaum muslimin hadir dalam tabligh akbar Anda, maka itu adalah saat yang tepat untuk beristighfar dan berlindung dari penyakit ghurur. Ya, karena itu akan mengekang hasrat ketergesaan Anda untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya belum saatnya untuk dilakukan.

Nampaknya, kita harus belajar pada ikhwah kita di Jama’ah Anshar al-Sunnah al-Muhammadiyah di Sudan. Simpati masyarakat Sudan pada mereka sudah sampai pada derajat; jika seorang pemuka jama’ah ini mencalonkan diri jadi presiden, maka ia pasti akan terpilih. Namun, jama’ah ini sepakat untuk tetap bersabar. “Saatnya belum tiba untuk itu,” demikian ujar mereka. Subhanallah, bukankah ini sebuah kesabaran yang patut diteladani?

Maka lagi-lagi, kita harus berhenti sejenak untuk merenungkan skala prioritas dakwah kita. Teringatlah kita pada ungkapan hikmah yang mengatakan :”Tegakkan Negara Islam dalam dirimu, niscaya dia akan tertegak di tanah airmu. Maka seluruh upaya dakwah saat ini seharusnya berpusar pada penegakan “Negara Islam” dalam pribadi-pribadi kaum muslimin. Melahirkan pribadi yang memiliki tauhid yang murni, tanpa noda syirik dan bid’ah, sesuai jejak al-Salaf al-Shalih. Melahirkan jiwa-jiwa yang merindukan perjumpaan dengan Allah. Dan perjalanan untuk itu, sungguh masih terlalu panjang untuk sebuah negeri yang jumlah penduduknya lebih dari 200 juta jiwa ini.

Maka, sekali lagi, jangan pernah tergesa-gesa

(MIZ/15-02-2008)

———————–

(Sumber : Majalah “al Bashirah” edisi 06 tahun II, Shafar 1429 H)

 
Jangan Pernah Tergesa-gesa

Share this Post

 

Related Posts

 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment

 




 
 

 
 
 
knowledge is power