Home / Akhlak /

Jangan Asal Menyampaikan Berita

 

Diantara manusia ada sebagian orang yang mendengarkan sebuah berita kemudian ia menyampaikan berita itu kepada orang lain dengan bentuk yang bukan sebenarnya. Bukan untuk berdusta atau berkhianat, akan tetapi ia tidak mampu untuk memahami ucapan itu dalam bentuknya yang sebenarnya. Allah Ta’ala tidak menganugerahkannya pemahaman yang baik. Karenanya, Anda akan dapatkan orang itu menukil ucapan orang lain apa yang tidak pernah diucapkannya, dan membawanya pada sebuah konsekuensi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Terdapat perbedaan yang besar diantara manusia dalam pengetahuan dan kemampuan untuk mencerna peristiwa yang terjadi. Saat si pendengar memahami sesuatu dari perkataan seseorang, kemudian ia menyampaikan berita itu kepada orang lain menurut pemahamannya sendiri –bukan redaksi perkataan orang yang mengucapkan-, maka yang seperti ini akan mengantarkan pada kerancuan besar di sebuah komunitas atau masyarakat.

Buruknya pemahaman adalah perkara yang umum di kebanyakan manusia. Terkadang pemahaman seseorang menjadi rusak dikarenakan tujuan yang memang buruk, atau tanpa tujuan buruk yang berlandaskan niat baik. Karenanya, termasuk dalam ketelitian para ulama ushul rahimahumullahu, mereka membedakan antara al-manthûq (yang tersurat) dan al-mafhûm (yang tersirat). Mereka lebih mendahulukan manthûq (redaksi ucapan) seorang yang berbicara daripada mafhûm (yang dipahami) dari ucapannya saat terjadi kontradiksi.

Yang sepertinya juga adalah ketika seorang pendengar mendengarkan sebuah ucapan atau membacanya, kemudian ia mengambil sebagian konsekuensi dari ucapan tersebut dan menyampaikannya kepada manusia –disengaja atau tanpa kesengajaan- dengan asumsi bahwa itulah pokok atau inti perkataannya! Makanya sebagian ulama ushul juga membuatkan kaedah,

لازم القول ليس بلازم

“Konsekuensi sebuah ucapan bukanlah sebuah kemestian.”

Mengabaikan persoalan seperti ini sangat mungkin akan mengantarkan seseorang untuk menerima begitu saja berita-berita bohong yang tidak memiliki landasan kebenaran. Kemudian hal itulah yang akan membawa kepada munculnya kebencian hati.

207

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu, “Banyak dari orang yang menyampaikan berita tidak bermaksud untuk berdusta. Akan tetapi, pengetahuan terhadap hakikat dari ucapan-ucapan manusia tanpa menukil redaksinya dengan segala hal yang dengannya bisa dipahami maksud perkataan tersebut terkadang merupakan perkara yang sulit bagi sebagian orang dan kadang tidak memungkinkan bagi sebagian lainnya.” (Minhâj as Sunnah an Nabawiyyah, VI/303, tahqiq : Muhammad Rasyad Salim).

Ini dalam kasus orang yang mendengarkan berita itu secara langsung dan salah dalam memahaminya. Bagaimana lagi jika orang yang tidak mendengarkannya secara langsung kemudian menukilnya kepada orang lain dengan hanya bermodalkan berita yang didengarkannya melalui perantara?!

Semoga Allah memaafkan segala kesalahan kita.

 
Jangan Asal Menyampaikan Berita

Share this Post

 

Related Posts

 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment

 




 
 

 
 
 
knowledge is power