Istri Tidak Wajib Mengurus Suami & Pekerjaan Rumah?

 

Seorang suami yang “orang biasa” berkata kepada istrinya yang “terpelajar” : “Tolong kerjakan ini…”

Tapi si istri justru berpaling dan enggan.

Suaminya menyuruhnya lagi, dia tidak mengindahkannya. Kali yang ketiga suaminya menyuruh, sang istri pun berkata dengan nada hardikan, “Ulama berbeda pendapat tentang hukum pelayanan istri terhadap suaminya, dan jumhur memandang bahwa hal itu tidak wajib atasnya. Jika engkau tidak mengetahuinya, maka pahami itu sekarang!”

Wanita “terpelajar” itu, perbuatannya seakan ingin mengatakan bahwa ia lebih afdhal dari Fathimah putri Rasulullah ﷺ –radhiyahu ‘anha– yang datang mengadu kepada ayahnya tentang apa yang ia rasakan di tangannya karena menggiling gandum, namun Nabi ﷺ hanya mengajarkannya sebuah dzikir dan ia tidak bisa mendapatkan seorang pembantu yang ia harapkan dari ayahnya.[1]

Seakan wanita “terpelajar” itu juga lebih afdhal dari Asma’ putri Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhuma yang melayani suaminya, az-Zubair ibnul ‘Awwam di dalam dan luar rumahnya; memberi makan kudanya, menimba air, mengadon roti dan membawa biji-bijian diatas kepalanya dari tanah kebun milik az-Zubair sejauh 1/3 farsakh.[2]

Yang seperti ini bisa disebut sebagai sebuah perkara yang tidak wajib dan hanya kebaikan akhlak sang istri?![3]

Istri yang melayani suaminya dalam semua urusan rumah tangganya, itulah perkara yang ma’ruf dan telah menjadi tradisi yang umum di semua bangsa.

Sebaliknya ketika istri hanya bersenang-senang, sementara suaminya yang melayani istri dalam semua urusan-urusan rumah; menyapu, mengadon, memasak, mencuci dan pekerjaan rumah lainnya, maka yang seperti ini adalah kemungkaran. Jika bukan istri yang melayani suami dalam urusan tersebut, maka suamilah yang akan menjadi pelayannya, sementara suami adalah pemimpin atas istrinya. Bagaimana mungkin seorang pemimpin akan menjadi pelayan bagi orang yang dipimpinnya?

usrah1Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata, “Akad-akad yang mutlak ditetapkan menurut kebiasaan yang umum berlaku. Dan tradisi yang umum berlaku adalah pelayanan istri (terhadap suami) dan pekerjaannya bagi kebaikan urusan dalam rumah. Perkataan mereka bahwa pelayanan Fathimah dan Asma’ adalah bentuk sedekah dan kebaikan tertolak dengan fakta bahwa Fathimah mengadukan kesulitan yang ia dapatkan dalam melayani suami, dan Nabi ﷺ tidak mengatakan kepada Ali : ‘Tidak ada kewajiban melayani atasnya karena kewajiban itu ada pada dirimu!’ Sementara beliau tidak takut kepada seorang pun dalam hukum. Dan ketika melihat Asma’ sementara makanan itu berada diatas kepalanya dan az-Zubair bersamanya, beliau ﷺ tidak mengatakan : ‘Tidak ada kewajiban melayani suami atasnya dan yang seperti ini adalah kezaliman terhadapnya!’ Bahkan beliau membiarkan az-Zubair memanfaatkan istrinya (dalam pekerjaan itu) dan beliau membiarkan para shahabatnya memanfaatkan istri-istri mereka (dalam pekerjaan rumah tersebut) dengan pengetahuan beliau bahwa diantara para istri itu ada yang benci dan ridha (dengan pekerjaannya). Ini adalah perkara yang tidak ada keraguan padanya.”[4]

Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah rahimahullahu menjelaskan masalah ini dengan perkataannya, “Ulama berselisih, apakah wajib atas istri untuk melayani suami dalam urusan perabot rumah, memberi makan, minum, membuat roti dan mengadon, memberi makan untuk pembantu dan hewan peliharaannya seperti memberi makan kudanya dan semacamnya? Diantara mereka ada yang mengatakan : ‘Pelayanan seperti itu tidak wajib’, dan pendapat ini lemah, sama lemahnya perkataan orang yang mengatakan : tidak wajib atas suami untuk menggauli dan menidurinya. Karena yang demikian itu bukanlah interaksi istri yang baik terhadap suami. Bahkan kawan dalam safar yang statusnya sama dengan (interaksi) seorang manusia dengan kawannya dalam sebuah rumah, jika ia tidak menolongnya dalam urusan-urusan kebaikannya maka sungguh ia tidak pernah memperlakukan kawannya itu dengan baik. Pendapat lain –dan itulah yang benar-: ‘Wajib melayani (suami)’. Karena suami adalah tuannya dalam Kitab Allah dan ia adalah ‘tawanan’ di sisi suaminya dalam sunnah Rasulullah ﷺ. Wajib bagi seorang tawanan dan hamba untuk melayani, dan karena perkara itulah yang disebut sebagai kebaikan.”[5]

Ibnul Qayyim juga mengatakan melanjutkan perkataannya tentang wajibnya seorang istri melayani suaminya, “Tidak benar pembedaan antara wanita yang berstatus sosial tinggi atau rendah, miskin atau kaya. Fathimah adalah wanita termulia di alam ini, ia melayani suaminya dan ia datang kepada Nabi ﷺ mengadu kepadanya tentang pekerjaannya dan beliau tidak merespon aduannya. Dalam hadits shahih Nabi ﷺ telah menyebut seorang istri sebagai ‘âniyah (tawanan). Beliau bersabda,

اتقوا الله فى النساء فإنهن عوانٌ عندكم

Bertakwalah kepada Allah dalam urusan para wanita (istri), karena sungguh mereka adalah tawanan di sisi kalian.”[6]; al-‘âniy adalah tawanan.

Dan kedudukan ‘tawanan’ adalah berkhidmat terhadap orang yang menguasainya. Tidak diragukan bahwa pernikahan adalah jenis dari ‘perbudakan’ sebagaimana perkataan sebagian Salaf : ‘Pernikahan adalah perbudakan, maka hendaknya salah seorang kalian melihat kepada siapa dia menyerahkan buah hatinya’.”[7]

Semua ini kami tuliskan bukan untuk melegalkan kezaliman dalam rumah tangga. Suami wajib memperhatikan kondisi istrinya dan tidak boleh membebankan kepada istrinya apa yang diluar kemampuannya. Rumah tangga adalah tanggung jawab bersama pasangan suami istri, dan kedamaian tidak akan pernah terwujud kecuali ketika masing-masing pihak mengerti hak dan tanggungjawabnnya. Dan termasuk dalam tanggung jawab istri adalah melayani dan mengurus suami, anak-anak dan rumahnya, karena wanitalah yang paling mengerti urusan dalam rumah, sementara suami bekerja untuk menafkahi dirinya dan anak-anaknya.

Inilah pendapat terkuat bagi orang yang mau adil memandang persoalan ini sebagaimana yang diungkapkan Ibnul Qayyim, “Tidak akan tersembunyi bagi orang yang adil mana yang paling rajih dari dua mazhab dan paling kuat dari dua dalil.”

Wallahu a’lam.

————————

Footnotes :

[1] Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dan Muslim

[2] Diriwayatkan oleh al-Bukhary dan Muslim. Jarak 1 farsakh kurang lebih sejauh 5 km.

[3] Demikian pendapat jumhur ulama, bahwa pelayanan seorang wanita terhadap suaminya yang selain urusan ranjang bukanlah perkara wajib dan hanya sebagai bentuk kebaikan dan akhlak yang mulia (?!)

[4] Zâd al-Ma’âd (V/187-189)

[5] Majmû’ al-Fatâwâ, (XXXIV/90-91)

[6] HR. Muslim

[7] Zâd al-Ma’âd (V/187-189)

 
Istri Tidak Wajib Mengurus Suami & Pekerjaan Rumah?

Share this Post

 

Related Posts

 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment

 




 
 

 
 
 
knowledge is power