Berhati-Hati dalam Mengamalkan Sunnah

 

Wajib bagi seorang muslim untuk memberi perhatian dan berhati-hati dalam mengerjakan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu dengan tidak melakukan sesuatu kecuali dengan landasan ilmu, tidak menggunakan dan mengandalkan logika, serta tidak memandang baik tidaknya suatu ibadah dengan pandangan akalnya semata.

Itulah yang dicontohkan oleh para Salaf umat ini.

Seorang laki-laki bersin di sisi Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, dan ia mengucapkan, “Alhamdulillâh wassalâmu ‘alâ rasûlih!” (Segala puji bagi Allah dan keselamatan atas rasul-Nya). Maka Ibnu Umar berkata, “Aku juga mengatakan : Alhamdulillâh wassalâmu ‘alâ Rasûlillâh. Namun bukan seperti itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kami. Beliau mengajarkan kami untuk mengucapkan : Alhamdulillâh ‘alâ kulli hâl.” (Segala puji bagi Allah dalam semua keadaan).[1]

Dari Ibnu Juraij bahwa Thawus menceritakan padanya bahwa ia pernah bertanya kepada Ibnu Abbas tentang shalat 2 rakaat setelah Ashar. Ibnu Abbas melarangnya mengerjakan itu. Thawus berkata : Aku berkata padanya : “Aku tidak akan meninggalkan dua rakaat tersebut!” Maka Ibnu Abbas membacakan,

وَمَا كَانَ لِمُؤمِنٍ وَلاَ مُؤمِنَةٍ إذَا قَضَى اللهُ وَرَسُولُهُ أمْرًا أن يَكُونَ لَهُم الخِيَرَةُ مِن أمْرِهِم وَمَن يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَد ضَلَّ ضَلاَلاً مُبِيْنًا

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya, maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Ahzab ayat 36).[2]

Yang sepertinya juga adalah kisah Sa’id bin al-Musayyib ketika ia melihat seseorang shalat setelah terbit fajar lebih dari dua rakaat, dengan memperbanyak padanya ruku dan sujud. Ia pun melarangnya. Orang itu berkata : “Wahai Abu Muhammad, Allah akan menyiksaku hanya karena shalat?!” Ia menjawab : “Tidak, akan tetapi Dia akan menyiksamu karena menyelisihi Sunnah!”[3]

Seorang laki-laki berkata kepada Imam Malik bin Anas, “Wahai Abu Abdillah, darimana aku memulai berihram?” Malik berkata, “Dari Dzulhulaifah, dimana Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam memulai ihramnya.” Orang itu berkata, “Aku ingin berihram dari masjid, dari sisi kubur (Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam).” Ia menjawab, “Jangan engkau lakukan. Sungguh aku mengkhawatirkan fitnah atas dirimu.” Orang itu berkata, “Fitnah apa dalam persoalan ini? Itu hanyalah beberapa mil yang aku tambahkan!” Malik berkata, “Fitnah apakah yang lebih besar daripada engkau melihat dirimu telah mendahului pada sebuah keutamaan yang dilalaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?! Sungguh aku mendengar Allah Ta’ala berfirman,

فَلْيَحْذَرِ الَّذِيْنَ يُخَالِفُونَ عَن أمْرِهِ أن تُصِيْبَهُم فِتْنَةٌ أوْ يُصِيْبَهُم عَذَابٌ ألِيْمٌ

Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An-Nur ayat 63).[4]

Ini hanyalah sedikit contoh orang-orang yang menyelisihi Sunnah dengan dalih untuk sedikit menambahkan sesuatu pada ketaatan tersebut. Namun, para imam menekankan betapa pentingnya mengagungkan Sunnah dan berhenti pada batas-batasnya.

Berkata Imam al-Bukhary rahimahullahu, “Dahulu para imam setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendiskusikan persoalan kepada orang-orang yang terpercaya dari para ulama dalam perkara-perkara yang mubah untuk mengambil yang paling mudahnya. Tapi jika telah jelas bagi mereka al-Kitab dan Sunnah, mereka tidak akan pernah melangkahinya, demi untuk meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.”[5]

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullahu, “Para Salaf sangat keras (pengingkaran mereka) dalam hal membenturkan dalil dengan pendapat-pendapat para tokoh. Mereka tidak akan mendiamkan hal tersebut.”[6]

Diantara contoh yang sangat bagus dalam masalah ini, bahwa Imam Abdullah bin az-Zubari al-Humaidi berkata : Suatu hari asy-Syafi’i meriwayatkan sebuah hadits, maka aku bertanya kepadanya : “Apakah engkau mengambil hadits itu? Ia menjawab, “Apakah engkau melihatku keluar dari gereja, atau pada diriku terdapat ikat pinggang[7] hingga ketika aku mendengar sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam aku tidak berpendapat dengannya?!”[8]

Dengan semua ini sangat jelas bagi kita bahwa al-Kitab dan Sunnah adalah prinsip pokok dalam berdalil. Keduanya yang akan menjadi patokan dalam menimbang berbagai macam pendapat dan ijtihad. Tidak akan pernah lurus iman seseorang hingga dia mengagungkan keduanya dan mengamalkan apa yang ditunjukkan oleh keduanya dari perkataan, amalan dan keyakinan.

Berkata Imam ath-Thahawi rahimahullahu, “Tidak akan kokoh kaki Islam kecuali diatas ketundukan dan kepasrahan. Siapa yang ingin menggapai ilmu yang ia dihalangi untuk mencapai pengetahuan tentangnya, pemahamannya tidak rela dengan sikap kepasrahan, niscaya obsesinya itu akan menghalanginya dari kemurnian tauhid, kesucian ma’rifah dan kebenaran iman.”[9]

Berkata Imam al-Barbahari rahimahullahu, “Jika engkau mendengar seseorang mencela atsar (sunnah), atau menolak atsar, atau menginginkan yang selain atsar, maka tuduhlah dia diatas Islam. Dan jangan pernah ragu bahwa ia adalah pengikut hawa nafsu, ahli bid’ah!” [10]

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu, “Termasuk anugerah terbesar yang Allah berikan kepada mereka –yaitu Ahlussunnah-; komitmen mereka terhadap al-Kitab dan Sunnah. Dan diantara prinsip yang disepakati di kalangan Shahabat, Tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik; bahwa tidak diterima dari siapapun sikap menolak al-Quran dengan pendapatnya, tidak pula dengan perasaannya, logikanya, analoginya dan hatinya. Karena mereka, telah sah dari mereka dengan argumen-argumen yang kuat dan ayat-ayat yang jelas bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam telah datang dengan petunjuk dan agama yang hak, dan bahwa al-Quran menunjukkan kepada jalan yang paling lurus.”[11]

quran-sunnah

(Manhaj at Talaqqî wa al Istidlâl baina Ahl as Sunnah wa al Mubtadi’ah)

———————-

Footnotes :

[1] Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, no. 2738

[2] Ar Risâlah, hal. 442

[3] Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq, no. 4755

[4] Al I’tishâm, I/132

[5] Fath al Bârî, XIII/339

[6] Mukhtashar ash Shawâ’iq al Mursalah, hal. 139

[7]Zunnâr” adalah ikat pinggang yang digunakan oleh ahli dzimmah untuk membedakan mereka dari kaum muslimin

[8] Hilyah al Auliyâ’, IX/106

[9] Syarh al ‘Aqîdah ath Thahâwiyyah, hal 219-221

[10] Syarhu as Sunnah, hal. 15

[11] Majmû’ al Fatâwâ, XIII/28

 
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment

 




 
 

 
 
 
knowledge is power