Home / Hadits /

Al-Mudallas (2)

 

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa tadlîs secara garis besar terbagi dua; tadlîs al-isnâd dan tadlîs asy-syuyûkh.

Tadlîs al-isnâd telah dijelaskan dan sekarang kita akan membahas tentang tadlîs asy-syuyûkh.

Tadlîs asy-syuyûkh adalah seorang perawi meriwayatkan dari syaikhnya sebuah hadits yang ia dengarkan langsung darinya, dan ia menyebutkan nama syaikhnya tersebut, atau kuniyahnya, atau menisbatkannya atau mensifatkannya dengan nama, kuniyah, penisbatan atau sifat yang syaikh tersebut tidak terkenal dengannya yang memang tujuannya agar ia tidak dikenali.

Jadi pada hakikatnya, dalam kasus ini tidak ada perawi yang digugurkan dan sanad tetap bersambung, namun ada usaha untuk menutupi nama syaikh yang sebenarnya, kuniyahnya atau sifatnya.

Itulah yang diinginkan oleh mudallis (pelaku tadlîs); mensifatkan gurunya dengan sesuatu yang tidak atau kurang dikenali agar tidak dikenali. Hal ini ia lakukan dikarenakan aib yang bisa merusak reputasinya sebagai perawi hadits, seperti status “lemah” (dha’f) yang ada pada diri syaikh, atau karena usia syaikhnya yang lebih muda dari si perawi dan lain-lain.

Contohnya adalah perkataan Abu Bakr bin Mujahid, seorang imam ahli qira’ah. Ia meriwayatkan dari Abu Bakr Abdullah bin Abu Dawud as-Sijistani dan berkata, “Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abi Abdillah…”; dan ia meriwayatkan dari Abu Bakr Muhammad bin al-Hasan an-Naqqasy dan berkata, “Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sanad…”, dengan menisbatkannya kepada nama kakeknya.

Hadith_Books

Hukum Tadlîs

Tadlîs al-isnâd sangatlah dibenci. Banyak ulama yang mencelanya. Syu’bah adalah salah satu imam yang sangat membenci perbuatan tersebut. Diantara perkataan Syu’bah tentang tadlîs adalah : “Tadlîs adalah saudara kedustaan.”

Tadlîs at-taswiyah lebih buruk statusnya dari tadlîs al-isnâd. Al-Iraqi mengatakan tentang perbuatan ini : “Tadlîs taswiyah merupakan cela/aib bagi orang yang sengaja melakukannya.”

Adapun tadlîs asy-syuyûkh, maka statusnya lebih ringan daripada tadlîs al-isnâd, karena mudallis tidak menggugurkan seorang pun dari sanad. Para ulama membenci tadlîs jenis ini disebabkan pengabaian terhadap riwayat dengan menyembunyikan hakikat sebenarnya dari sanad terhadap orang yang mendengarkan riwayat tersebut. Berat tidaknya status ketidaksukaan ulama terhadap tadlîs jenis ini akan berbeda sesuai dengan motif si pelaku tadlîs.

 
Al-Mudallas (2)

Share this Post

 

Related Posts

 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment

 




 
 

 
 
 
knowledge is power