Home / Adab /

Adab Mengundang & Menerima Tamu

 

1. Hendaknya mengundang orang-orang shalih yang bertakwa dan bukannya justru mengundang orang-orang fasik. Nabi ﷺ bersabda,

لا تصاحب إلا مؤمنًا ولا يأكل طعامك إلا تقيٌّ

Jangan engkau berteman kecuali dengan seorang mukmin dan jangan menyantap hidanganmu kecuali orang yang bertakwa.” (HR. Al-Bukhary).

2. Tidak mengkhususkan undangan hanya untuk orang-orang kaya tanpa menyertakan orang-orang miskin. Dalam hadits shahih, Nabi ﷺ bersabda,

شر الطعام طعام الوليمة، يدعى إليها الأغنياء دون الفقراء

Seburuk-buruk makanan adalah makanan resepsi. Diundang padanya orang-orang kaya tanpa menyertakan orang-orang fakir.” (Hadits muttafaq ‘alaihi).

2

3. Tidak memaksudkan undangan tersebut untuk kesombongan dan kebanggaan. Hendaknya Anda meniatkan undangan itu untuk meneladani Nabi ﷺ dan memberi kebahagiaan kepada saudara-saudara muslim.

4. Jangan membebankan tamu untuk melayani Anda, karena hal itu sama sekali tidak termasuk dalam etika kesopanan.

5. Jangan tampakkan kejenuhan di hadapan tamu. Perlihatkan padanya kebahagiaan Anda atas kedatangannya, dengan wajah yang berseri dan ucapan yang baik.

6. Bersegera menghidangkan jamuan untuk tamu karena hal itu termasuk dalam memuliakan tamu.

7. Jangan terburu-buru membereskan makanan dari meja sebelum tamu Anda selesai dari hajatnya.

8. Dianjurkan mengantar tamu sampai ke pintu, karena hal itu termasuk dalam kesempurnaan pelayanan Anda terhadap tamu.

 
Adab Mengundang & Menerima Tamu

Share this Post

 

Related Posts

 
 

2 Comments

  1. Maulidini says:

    Saya mau bertanya. Apa hukumnya jika seseorang sengaja mengundang tamu (demi meramaikan rumah) padahal keluarganya sendiri ada yang kelaparan. Sedangkan ia menghidangkan jamuan untuk tamunya. Dan anggota keluarganya tidak diberi makanan.

    • admin says:

      Keluarga lebih layak untuk dinafkahi. Karena sedekah terbaik adalah kepada kaum kerabat. Allahu a’lam.

 
 

Leave a Comment

 




 
 

 
 
 
knowledge is power